Juragan Bagi Diri Sendiri

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri


Saya bertanya pada anak – anak kecil, bagaimana “gaya” seseorang yang bekerja sebagai bos bagi dirinya sendiri. Hampir semua anak, serta merta berkacak pinggang, seolah-olah menunjukkan “power”-nya. Ya, Wirausaha adalah “boss”!

Bila riset kecil ini kita lakukan terhadap sang wirausahawan, baik kecil maupun besar, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan kacak pinggang yang ditampilkan, tetapi justru mengerutkan kening. “Pusing!”. Inilah umumnya reaksi spontan mereka. “Orang pikir jadi pengusaha bisa bebas dan bisa berbuat seenaknya”, ujar seorang wirausahawan. Pada kenyataannya, ia seolah tidak bisa memicingkan mata walau sekejap, karena masalah selalu mengintip dan ia harus selalu “waspada” mengantisipasi perubahan. Seorang “event organizer” muda yang menjadi kurus setelah menekuni usaha sendiri, mengatakan bahwa ia tidak bisa lepas dari kegiatan berjualan, pemasaran, kontrak, kepuasan pelanggan, kontrol kualitas. “Semua harus di kepala”. Jadi sebenarnya apa yang dikejar oleh para pengusaha muda ini? Apakah “kebebasan” yang mereka cari seperti yang dikemukakan kebanyakan orang?

Memelihara Greget

Banyak orang yang tidak bisa menghitung, apa penyebab dan latar belakang seorang wirausahawan bekerja tak kenal lelah siang dan malam, berpikir tidak berhenti, seolah “tidak ada matinya”. Seorang  wirausaha muda mengungkapkan, bahwa spirit yang dimilikinya banyak berangkat dari masalah dan tantangan. Dalam sebuah rapat dengan klien, ia merasa “terhina” ketika salah seorang peserta rapat berkata,”Masa Anda hanya memperdagangkan produk orang saja. Bikin dong…”. Sejak itulah, teman kita ini sibuk mendesain, menghitung, berkeliling mencari pemasok dan bereksperimen. “Bisa Anda bayangkan “puasnya” ketika saya berhasil. Bahkan, ketika sudah merasakan keberhasilan, kesempatan lain seolah terbuka lebar bagi obsesi dan ambisi kita”, demikian ucapnya.

Setiap wirausahawan juga punya inisiatif untuk memulai. Untuk memulai, mereka tahu bahwa mereka harus mengalami. Banyak wirausahawan memulai usahanya karena melihat dan mengalami inefisiensi, tidak efektifnya suatu sistem, produk ataupun servis, baik di perusahaan tempat ia bekerja atau di kehidupan sehari-hari. Seorang wirausahawan memulai usahanya karena tidak bisa menemukan makanan sehat yang terjangkau.  Ia berpikir dan berusaha keras, dianggap oleh orang di sekitarnya sebagi orang yang “aneh”, sampai akhirnya ia bisa sukses menjual produknya. Inilah titik balik di mana ia perlu menyadari gregetnya dan memulai risetnya.

Bekerja untuk diri sendiri dilatarbelakangi oleh kekuatan mental:“being in charge of your own destiny “. Seorang ahli psikologi, McClelland, (1953) yang penasaran dengan kualitas para wirausaha sukses ini menemukan unsur n Ach (need for achievement) yang tinggi pada para wirausaha. Seorang wirausaha sadar akan risiko, namun tidak takut gagal. Greget dan keyakinannya yang kuat serta stamina untuk mencapai sasarannya menyebabkan ia beranggapan bahwa kegagalan adalah bagian dari prosesnya menuju apa yang ia cita-citakan.

“Bisa” ketimbang “Punya”

Sumber keberhasilan seorang wirausaha juga banyak terletak pada motivasinya. Dorongannya untuk “bisa” melakukan, menemukan atau memberi nilai tambah pada produk atau jasanya biasanya lebih besar ketimbang motivasinya untuk sekedar “punya” bisnis atau mengeruk keuntungan sebesar – besarnya.

Jadi, komentar bahwa ”Si Budi sudah punya pabrik”, atau “Si Budi sudah naik Merci” tidak terlalu tepat untuk memecut seorang wirausaha. Wirausaha yang sukses biasanya akan berusaha untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan dan kemudahan, tanpa cepat merasa puas. Kepuasannya terletak pada “good work”yang ia hasilkan. Mungkin beberapa di antaranya tidak mengenal istilah TQC ( total Quality Control), tetapi sudah menjalaninya dan menghayatinya tanpa belajar. Inilah latar belakang mengapa seorang wirausaha gudeg terkenal bisa menjaga namanya berpuluh tahun, seorang tukang reparasi sepatu bisa berhasil sampai membuka franchise reparasi tas dan koper.

“Fun “ vs “Hard Work”

Nasihat orangtua: “There”s always a price to pay”, disadari betul bagi para wirausahawan. Bila menjadi karyawan membuat orang merasa aman, misalnya bisa 100% yakin akan menerima gaji bulanan pada tanggal tertentu, seorang wirausaha justru harus menyiapkan gaji, THR, persediaan barang untuk melanggengkan bisnisnya. Bila di perusahaan kita perlu gigih mengusulkan ide kepada atasan, maka seorang wirausahawan menghadapi hal yang sama dalam konteks yang lebih luas. Ia harus gigih menjajakan produk dan jasanya. Pelangganlah yang melakukan penilaian langsung dan memutuskan untuk membeli. “The buck stops with you” kata seorang wirausaha sukses, kitalah penentu, pengambil keputusan, penghitung resikonya.

Hal yang juga sangat utama dalam berwirausaha adalah sikap terhadap uang. Seorang wirausaha tidak hanya tertantang untuk mendapat uang, tetapi  memutar bahkan menternakkan uang. Ia selalu perlu memikirkan upaya konservasi uang, menyediakan “cash cushion” baik untuk investasi ataupun emergensi. Hal inipun pada akhirnya dianggap oleh para wirausaha sebagai “game” dan sesuatu yang “fun”.

(Ditayangkan di KOMPAS, 11 April 09)

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s